Epistemologi

Sebuah pesan: Janganlah menganut agama*1 Islam*2 hanya sebagai kepercayaan saja (dogma). Tapi anutlah Islam menjadi keyakinan yang ilmiah dan dapat dipraktekkan dengan nyata kebenarannya. (Kadirun Yahya)*3
Oleh sebab itu agamapun penerangannya harus disesuaikan dengan ilmu mutakhir zaman dewasa kurun 14 ini, sehingga agama itu menjadi realita. Being itu menjadi riil. Zat yang Kamil itu menjadi kenyataan berhampir pada umat semua agama. (Kadirun Yahya)*4

Bab I. Pendahuluan

Epistemologi dikenal sebagai Sub-Sistem Filsafat, dimana tidak hanya epistemologi yang dikenal, tetapi juga ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori pengetahuan yang membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Ontologi adalah teori tentang ”ada” yaitu tentang apa yang ingin dipikirkan. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu.
Oleh karena itu, maka sub-sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan, mulai dari ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi. Dengan gambaran yang sederhana dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang perlu dipikirkan (ontologi), lalu dicari cara-cara memikirkannya (epistemologi), kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi). Singkatnya, karena keinginan mengetahui senantiasa melekat pada manusia, maka epistemologi tidak lain dari usaha yang sistematis guna pemenuhan kebutuhan keinginan mengetahui tersebut. *5
Terlihat dari praktek lembaga-lembaga pendidikan secara umum -- baik disadari ataupun tidak – dipisahkannya “ilmu agama” dengan “ilmu non-agama.” Selanjutnya, ilmu agama juga dipisah-pisahkan, dan begitu pula dengan ilmu-ilmu non-agama (ilmu antropologi, ilmu sosiologi, ilmu psikologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu alam, ilmu pasti, dan lain-lain) yang kesemuanya tidak dapat diacu kepada kerangka epistemologi yang mengarah kepada unifikasi dari ilmu-ilmu ini. Akibatnya, bukan saja ilmu agama kemudian berbentur dengan ilmu non-agama, akan tetapi sesama ilmu agama dan sesama ilmu non-agama juga saling berbenturan.
Kemudian, karena tindakan sehari-hari manusia melekat pada lembaga, maka persepsi keterpisah-pisahan ini otomatis menjadi jiwa dari lembaga tersebut. Tidak dapat disangkal lagi, pada gilirannya tindak-tanduk sehari-hari lembaga ini membuahkan benturan-benturan pada kehidupan manusia sehari-hari. Dengan demikian, bukan saja keterpisahan dan benturan terjadi pada tatanan visi akan tetapi juga pada tatanan dinamika praktek kehidupan manusia sehari-hari.
Di lain pihak, terjadi hal yang sangat ironis, karena pengetahuan-pengetahuan atau ilmu-ilmu yang dianggap terpisah-pisah sehingga menyebabkan benturan-benturan sesama umat manusia pada kehidupan sehari-harinya, ternyata sangatlah bertolak-belakang dengan temuan-temuan manusia yang diperolehnya melalui keinginannya untuk mengetahui yaitu sesungguhnya semua isi alam semesta berikut manusia sedang dan senantiasa menyatu bersama (“Tauhid” yang berasal dari kata “ahad” dalam bahasa Arab):
Fisika Quantum: Parts are seen to be in immediate connection, in which their dynamical relationships depend, in an irreducible way, on the state of the whole system (and, indeed, on that of broader systems in which they are contained, extending ultimately and in principle to the entire universe). Thus, one is led to a new notion of unbroken wholeness which denies the classical idea of analyzability of the world into separately and independently existent parts.
Sangat mendasarnya isi Surat Al-Fatiha dalam ajaran agama Islam terlihat misalnya dengan pemberian nama lain surat ini oleh Nabi Muhammad SAW sendiri yaitu Ummul Kitab (Ibu/Sumber Kitab), sedangkan arti dari “Al-Fatiha” sendiri adalah “The Opening”. Surat ini memberitahukan kepada pembaca agar mengidentifikasi dirinya bukan sebagai “aku,” akan tetapi sebagai “kami”.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa surat ini wajib dibaca setiap mengerjakan shalat yang wajib ditegakkan. Apakah seorang penganut agama Islam sedang melaksanakan shalat secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah, tetap saja pada keduanya identifikasi diri itu adalah “kami” bukan “aku.”
Surat Al-Fatihah, 5-7:
”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Hukum paling utama, yang sering disebut sebagai The Golden Rule pada Injil (Markus 12: 28-31) juga menjelaskan mengenai kesatuan umat manusia:
”Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadanya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?
Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”
Benturan-benturan yang berawal dari keterpisah-pisahan yang disebutkan di atas adalah manifestasi dari ilmu-ilmu (baik ilmu agama maupun ilmu non-agama) yang diformulasikan berdasar hasil pengamatan manusia -- disadari atau tidak -- dimana si pengamat berasumsi bahwa ia adalah makhluk yang independent, tidak ada keterikatan dengan makhluk lainnya. Inti permasalahan dari perkembangan ilmu-ilmu yang didasari oleh epistemologi-epistemologi seperti ini adalah:
”“Reality” is what we take to be true. What we take to be true is what we believe. What we believe is based upon our perceptions. What we perceive depends upon what we look for. What we look for depends upon what we think. What we think depends upon what we perceive. What we perceive determines what we believe. What we believe determines what we take to be true. What we take to be true is our reality.”

I.A. Epistemologi Yang Terpisah-pisah dan Epistemologi Yang Mengakui Adanya Keterpisahan Akan Tetapi Keterpisahan Itu Berada Dalam Keadaan Sedang dan Senantiasa Menyatu Bersama

Pengajaran ilmu (baik yang diberi label ilmu agama maupun ilmu non-agama) yang berdasar pada epistemologi yang terpisah-pisah dapat kita simak pada kisah yang sudah umum yaitu mengenai gambaran berbeda-beda (terpisah satu sama lain) yang diberikan oleh beberapa orang (baik orang buta atau orang melek) sewaktu mengamati seekor gajah yang sama.
Pada umumnya dikemukakan bahwa hasil yang diperoleh para pengamat akan berbeda-beda baik karena akibat posisi masing-masing pengamat dalam proses pengamatan, maupun karena latar belakang pendidikan, budaya, dan hal lainnya. Dan sebagai perpanjangan dari logika ini, keterpisah-pisahan sudut pandang tersebut dianggap bersifat natural. Dengan kata lain, lahirnya epistemologi-epistemologi yang terpisah-pisah satu sama lain adalah wajar; sedangkan yang sebaliknya, yaitu suatu epistemologi yang mengakui adanya keterpisahan akan tetapi keterpisahan itu berada dalam keadaan sedang dan senantiasa menyatu bersama adalah tidak wajar.
Betulkah kelahiran epistemologi yang terpisah-pisah satu sama lain itu adalah “natural/wajar” dan kewajaran ini dapat dibuktikan?
Di bawah akan dijelaskan bahwa yang sebenarnya “natural/wajar” adalah epistemologi yang mengakui adanya keterpisahan akan tetapi keterpisahan itu berada dalam keadaan sedang dan senantiasa menyatu bersama. Epistemologi yang mengakui adanya keterpisahan akan tetapi keterpisahan itu berada dalam keadaan sedang dan senantiasa menyatu bersama sebenarnya sudah ada pada saat (at the very instance, now, sekarang, saat ini) para penilai/pengamat melakukan penilaian pada gajah yang menjadi contoh di atas.
Epistemologi ini akan terlihat dengan sendirinya asal saja setiap penilai bersedia mendasarkan penilaiannya berdasarkan apa adanya. Pada saat penilaian dilakukan, sinar matahari (atau sinar lampu, kalau penilaian dilakukan pada malam hari) yang jatuh pada tiap molekul tubuh/kulit si gajah memantul ke arah para penilai dan selanjutnya menembus retina mata tiap penilai dan menjalar ke sistim syaraf manusia (otak adalah bagian dari sistim syaraf) dalam bentuk cahaya (electro-chemical impulse). Selanjutnya, adalah juga cahaya (electro-chemical impulse) yang terkandung pada syaraf-syaraf si penilai juga yang menggerakkan bibir dan mulut setiap penilai pada saat tiap-tiap mereka menyatakan penilaiannya -- dalam bentuk kata-kata, atau tulisan -- mengenai si gajah.
Singkatnya, seluruh proses penilaian tersebut dimulai oleh cahaya dan diakhiri oleh cahaya. Inilah epistemologi yang mengakui keterpisahan (karena, tiap penilai adalah individu yang berbeda) tetapi keterpisahan itu berada dalam keadaan sedang dan senantiasa menyatu bersama (karena, hanya cahayalah yang bekerja pada seluruh proses penilaian).
Kesimpulan yang sama juga didapatkan apabila beberapa pembaca naskah ini, secara bersama-sama, mengamati dan memberi pendapatnya terhadap Gambar-1: “Vase or Faces?” di bawah ini.
Kalau epistemologi ilmu dibangun semata-mata dari jawaban terhadap pertanyaan “Vase or Faces?” maka hasilnya adalah epistemologi yang sejak awalnya sudah berdasar pada keterpisahan; sedangkan yang sedang dan senantiasa terjadi sebenarnya adalah:
Cahaya jatuh pada Gambar-1 => cahaya memantul ke arah mata manusia => cahaya menembus retina sampai ke otak bagian belakang => cahaya menjalar melalui sistim syaraf ke gendang suara/mulut/bibir/lidah manusia berupa kata- kata yang berbunyi “Vase,” atau “Faces,” atau “Vase dan Faces”. Kalau hasil penilaian diberikan dalam bentuk tulisan (bukan kata-kata), maka cahaya juga yang menjalar melalui sistim syaraf ke jari-jari manusia untuk menuliskan hasil penilaiannya.
Dengan kata lain, sekali lagi, seluruh proses penilaian tersebut dimulai oleh cahaya dan diakhiri oleh cahaya.
Kalau yang diamati adalah sebuah “pohon,” maka proses melihat pohon oleh si pengamat adalah seperti terlihat pada Gambar-2.
Light waves from an object (such as a tree) enter the eye first through the clear cornea and then through the pupil, the circular aperture (opening) in the iris. The light waves are converged first by the cornea, and then further by the crystalline lens, to a nodal point (N) located immediately behind the back surface of the lens. At that point, the image becomes inverted (turned upside-down).
The light progresses through the gelatinous vitreous humor and, ideally, back to a clear focus on the retina, the central area of which is the macula. (If the eye is considered to be a type of camera, the retina is equivalent to the film inside the camera, registering the tiny photons of light which interact with it.) In the retina, light impulses are changed into electrical signals and then sent along the optic nerve and back to the occipital (posterior) lobe of the brain, which interprets these electrical signals as visual images. Actually, then, we do not “see” with our eyes but, rather, with our brains; our eyes merely assist with the visual process.
Epistemologi ini memberikan kesadaran kepada para penilai bahwa selama proses penilaian berlangsung masing-masing penilai sebenarnya -- secara sukarela -- sedang “menyerahkan dirinya,” atau “Islam” dalam bahasa Arabnya, menjadi “vehicle” bekerjanya si cahaya. Dengan demikian, karena apa yang terjadi selama pengamatan dan penilaian juga terjadi pada kegiatan-kegiatan sehari-hari lainnya, maka (Q.49:14):
Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Disebutkan di atas bahwa “sukarela,” atau dengan kata lain “tidak ada paksaan” adalah suatu kepastian pada epistemologi ini. Dengan demikian (Q.2:256):
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Petunjuk ketersedian epistemologi yang lahir secara natural ini disebutkan, antara lain, pada Surat An-Nur/24: 34-37:
[34] Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
[35] Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
[36] Bertasbih kepada Allah di mesjid-mesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,
[37] laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.
Al-Ghazzali:
When you see hues of spring-the tender green, for example-in the full light of day, you entertain no doubt but that you are looking on colors, and very likely you suppose that you are looking on nothing else alongside of them. As though you should say, "I see nothing alongside of the green."
Many have in fact, obstinately maintained this. They have asserted that light is a meaningless term, and that there is nothing but color with the colors. Thus they denied the existence of the light, although it was the most manifest of all things -- how should it not be so, considering that through it alone all things become manifest, for it is the thing that is itself visible and makes visible, as we said before?
But, when the sun sank, and heaven's lamp disappeared from sight, and night's shadow fell, then apprehended these men the existence of an essential difference between inherent shadow and inherent light; and they confessed that light is a form that lies behind all color, and is apprehended with color, insomuch that, so to speak, through its intense union with the colors it is not apprehended, and through its intense obviousness it is invisible. And it may be that this very intensity is the direct cause of its invisibility, for things that go beyond one extreme pass over to the extreme opposite.
If this is clear to you, you must further know that those endowed with this Insight never saw a single object without seeing Allah along with it. It may be that one of them went further than this and said, "I have never seen a single object, but I first saw Allah"; for some of, them only see objects through and in Allah, while others first see objects and then see Allah in and through those objects. It is to the first class that the Qur'an alludes to in the words, "Doth it not suffice that My Lord seeth all?" [41:53] and to the second in the words, "We shall show them our signs in all the world and in themselves." For the first class have the direct intuition of Allah, and the second infer Him from His works.
The former is the rank of the Saint-Friends of God, the latter of the Learned "who are established in knowledge".[3:6] After these two grades there remains nothing except that of the careless, on whose faces is the veil.
Yohanes 3: 21:
“Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."
Yohanes 12:35-36:
"Kata Yesus kepada mereka: “Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu kemana ia pergi. Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.”
Matematik/Apllied Physics:
“The same basic equation -- one of the simplest and most elegant of all mathematical equations -- governs the propagation of light, the vibration of violin string, the cooling of a spiral, and the orbits of the planets”.
Lebih dari itu, epistemologi ini bukan saja menunjukkan sedang dan senantiasa bersatunya sesama para penilai, bahkan antara para penilai dengan gajah yang diamati. (read - on)
Pada proses pengamatan yang sama, epistemologi yang bersandar pada kesadaraan sedang dan senantiasa menyatu bersama dan sedang berserah diri secara sukarela yang berdasar pada pengalaman manusia apa adanya sehari-hari, tanpa ada paksaan, juga bisa ditemukan secara apa adanya dengan kesadaran bahwa baik tiap penilai maupun si gajah kesemuanya pada saat yang bersamaan menghirup oksigen dan menghembuskan carbon-dioxida sepanjang proses penilaian. Lebih tepatnya, si penilai dapat melakukan penilaian karena terjadi metabolisme oksigen melalui sistem syarafnya, yang berkelanjutan sampai dapatnya mereka menyatakan penilaian dalam bentuk suara (yang berasal dari nafas, oksigen yang dihirup) tentang si gajah.
Kesadaran mutlaknya keberadaan oksigen ini selanjutnya akan menyadarkan setiap penilai (dan juga si gajah) bahwa sistim syaraf mereka (memerlukan oksigen, membuang carbon di-oxida) berhubungan dengan pepohonan (memerlukan carbon-dioxida, membuang oksigen) dalam proses photosynthesis, yang pada saat yang sama memerlukan keberadaan (sinar) matahari, yang memerlukan keberadaan benda-benda cosmology lainnya. Proses interaksi dalam sedang kebersatuan ini juga adalah proses cahaya karena peristiwa perpindahan/pelepasan oksigen/carbon dioxida pada dinding paru-paru adalah peristiwa electro-chemical, begitu juga dengan peristiwa photosynthesis.
Dengan demikian apa yang terjadi pada proses ini tidak berbeda dengan apa yang terjadi pada proses penilaian mengenai gajah oleh tiap-tiap penilai di atas: seluruh proses dimulai oleh cahaya dan diakhiri oleh cahaya. Kembali lagi ditemukan epistemologi yang mengakui keterpisahan (keterpisahan antara para penilai, gajah, pohon, matahari, benda-benda langit) tetapi keterpisahan itu berada dalam keadaan sedang dan senantiasa menyatu bersama (karena, hanya cahayalah yang bekerja pada seluruh proses). Dengan demikian:
Q.7 (Al-A’raf/Faculty of Discernment): 205:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai."
“Husy dar Dam,” (dalam bahasa Turki, yang artinya: awareness during breathing, sadar akan nafas) adalah butir ke-1 dari 8 butir ajaran Saidi Syech Abdul Chalik al-Fajduwani/Gujduwani.
Saidi Syech Naqshband:
"The external basis of this tariqa is the breath. One must not exhale in forgetfulness or inhale in forgetfulness”.
Prof. Kadirun Yahya (Nafi-Isbad dan Uquf):
"Orang dzikrullah mengartikan ‘uquf’ itu suatu pengampunan akan segala dosa. Maka undang-undangnya, ‘uquf’ itu tidak mungkin dapat diwakilkan pada siapapun. "

I.B. Perbedaan Malam (Gelap) dan Siang (Terang) adalah Ayat/Tanda

Kesadaran akan sedang dan senantiasa bersama menyatu dalam cahaya menunjukkan kepada si pengamat/penilai bahwa cahayalah sebenarnya yang bekerja sejak awal sampai akhir. Dengan kata lain dirinya tidak lain -- secara sukarela -- menjadi tempat wadah bekerjanya cahaya. Kesadaran ini secara otomatis menimbulkan pertanyaan bagi si pengamat/penilai: “sebenarnya bukan saya yang berkuasa melihat si gajah, akan tetapi cahaya yang masuk melalui mata saya dan bekerja melalui saya yang memperlihatkan gajah itu? Dengan demikian, siapa yang sebenarnya yang melihat gajah itu? Siapa sebenarnya saya? Kalau saya tidak bisa mengetahui siapa saya berarti saya juga tidak mengetahui tentang apa-apa yang di sekeliling saya. Di tengah siang yang terang benderang mengamati gajah ini, sebenarnya saya pada keadaan malam yang gelap”. Dengan demikian, Q.3/Al-Imran:190-191:
[190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
[191] (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Q.10/Yunus: 6:
Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.
Yohanes 9: 39-41:
Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepadanya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: “Kami melihat,” maka tetaplah dosamu.”
Dengan demikian, epistemologi yang bersandar pada kesadaraan sedang dan senantiasa menyatu bersama dan sedang berserah diri secara sukarela yang berdasar pada pengalaman manusia apa adanya sehari-hari, tanpa ada paksaan, memberikan kesadaran yang lebih jauh bahwa walaupun si pengamat di tengah siang yang terang benderang (mengamati gajah), sebenarnya ia berada pada kegelapan. Dengan kata lain, karena ia tidak dapat mengidentifikasi siapa dirinya sebenarnya, maka apa-apa yang selama ini dianggapnya sebagai sesuatu yang dapat didefinisikannya ternyata semuanya adalah gaib.
Dengan demikian, Q.2: 2-5:
[2] Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
[3] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
[4] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
[5] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Dengan demikian, Prof. Kadirun Yahya:
“Oleh sebab itu kalau kita telah memasuki, telah memasuki metafisik daripada Al-Islam maka harus berjalan pelan-pelan, betul-betul hukum dan syarat ilmiah itu berdasar. Berdasar daripada riset itu kita pakai satu demi satu, butir demi butir kita berdiri....
Jadi metafisika adalah suatu ilmu yang berdasarkan atas Ilmiah yang riil dan dilanjutkan masuk ke dalam alam teori dan kesudahannya masuk ke dalam alam ketuhanan seperti fisika juga. Pada satu titik dia akan bertemu dengan satu teori yang tak dapat dilihatnya lagi, umpamanya atom, teori molekul, teori ion, teori interpretasi. Tapi dia meneruskan lagi namun berdasarkan logika daripada ilmiahnya yang belum dapat di observasi, hanya harus dirangkakan harus didasarkan ditujukan kepada Ketuhanan.
Al-Quranul Karim dan Al-Hadist menjaga, memagar agar filsafat kita, ilmiah kita tidak keluar daripada riil. Karena filsafat syeitaniah juga ada yang tidak mempunyai Undang-Undang-Dasar, kebatinan syeitaniah bukan tidak ada, banyak sekali bahkan yang batil itu dengan yang haq itu kalau tidak diteliti hampir serupa nampaknya, dan yang pokok sekali harus bisa lari ke pangkal yaitu Al-Hadits dan Al-Qur’an.”

Bab II: Episteme/Source of Knowledge : Al-Qur’an and Sunnah of Rasul-Allah.

Dengan memberlakukan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW (“Sunnah”) sebagai “episteme” perlulah dipastikan bahwa setiap definisi yang dicakup epistemologi ini senantiasa merujuk kepada episteme. Misalnya:
1. Definisi metode penggunaan Al-Qur’an sebagai episteme seharusnyalah mentaati apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an itu sendiri:
a) Al-Qur’an menjelaskan bahwa “Ia” adalah petunjuk yang pasti bagi “muttaqiin” (Al-Baqarah/2: 2-5) . Karena itu perlulah dipastikan pemahaman dan aplikasi dari “muttaqiin” itu terlebih dahulu agar penggunaan Al-Qur’an sebagai episteme tidak malahan menimbulkan kerancuan;
b) Al-Qur’an (56: 77-79) menjelaskan bahwa “Ia” tidak dapat disentuh kecuali oleh “mereka yang disucikan.” Karena itu perlulah dipastikan pemahaman dan usaha menjadikan diri menjadi “mereka yang disucikan” itu sesuai dengan yang didefinisikan oleh Al-Qur’an itu sendiri;
c) Al-Qur’an menjelaskan bahwa kalau “Ia” ditaruh di atas gunung, tentulah gunung itu akan hancur luluh (Q.13:31). Dengan demikian tentulah Al-Qur’an itu bukan sebatas tinta dan kertas. Usaha memahami, mempraktekkan, menjelaskan hal ini seharusnyalah sesuai dengan yang didefinisikan oleh Al-Qur’an itu sendiri;
d) Al-Qur’an mengumpamakan Allah SWT sebagai “cahaya” (Q.24: 35-38). Karena itu kita pakailah metode yang “mensikapi” cahaya.
2. Definisi tentang sesuatu seharusnya berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah of Rasulullah. Misalnya:
a) Terminologi “hamba” menurut Al-Qur’an (89: 27-30) adalah bermula dari “Nafs Mutmainnah” => “saling berke-Ridha-an” => “hambaKu”.
3. Sunnah Rasul-Allah menjelaskan bahwa:
a) Peristiwa Isra-Mi’raj mengawali perintah shalat lima waktu yang dilaksanakan ummat Islam saat ini terjadi setelah 11-12 tahun (double check) setelah wahyu pertama (Surat Al-Alaq/96) kepada Rasulullah SAW, yang berarti sekitar separuh dari seluruh masa kenabian Beliau. Karena itu pentinglah episteme ini dipakai sebagai rujukan epistemologi.
b) Rasul-Allah menjelaskan: "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Al-Bukhari). Pentinglah dipastikan bahwa episteme ini dipakai sebagai rujukan epistemologi.

Bab III: Transmission of knowledge from the Episteme: Sunnah of Rasul-Allah

Q.4/An-Nisa: 79-80:
[79] Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
[80] Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.
Prof. Kadirun Yahya:
Ketahuilah olehmu: “Kita hanya mengikuti doktrin-doktrin Rasul. Kita tidak perlu menciptakan doktrin sendiri lagi. Tegasnya: Kita hanya menguraikan, mengilmiahkan (explanation) ucapan/kata-kata Rasul. Dengan percontohan segala kekayaan alam yang ada”.
Ingatlah: (1) Tharikat yang betul berdiri diatas syari’at; (2) Supra rasional yang betul berdiri diatas rasional; (3) Metafisika yang betul berdiri di atas fisika.
Desargue’s Theorem:
"You have to have a point in a third dimension in order to solve the problem in the two-dimensional space;"
Godel Incompletness Theorem:
"To prove something we must start with a set of postulates, but then demonstrated that we can never prove the set of postulates are even self-consistent unless we make a new overarching set of postulates which themselves cannot be proven self-consistent."

Bab IV: Ontologi

  • Principle of Tauhid of Allah
Narrated Ibn Abbas: When the Prophet sent Muadh to Yemen, he said to him, "You are going to a nation from the people of the Scripture, so let the first thing to which you will invite them, be the Tauhid of Allah. If they learn that, tell them that Allah has enjoined on them, five prayers to be offered in one day and one night. And if they pray, tell them that Allah has enjoined on them Zakat of their properties and it is to be taken from the rich among them and given to the poor. And if they agree to that, then take from them Zakat but avoid the best property of the people."
  • Principle of Non-Compulsion
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  • Principle of Knowing Onself and Endogeneity
Surah Al-Baqarah/2: verse 2-5:
[2] Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
[3] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
[4] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
[5] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Bab V: Ontic (Eventuation) Domain: Tauhid of Allah
Q. 13 (Ar-Ra’d/Thunder): 1-5:
[1] Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur'an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).
[2] Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
[3] Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
[4] Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
[5] Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?" Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
  • Adanya “ahad” dalam bentuk kekuasan Ar-Rabb yang mengikat benda-benda langit dan benda-benda bumi. Manusia juga senantiasa sedang berada dalam “ahad” ini yang terlihat, misalnya, dari ia senantiasa bernafas (oxygen - paru2 - darah - sel syaraf dan tubuh yang baru - carbon dioxyda - pepohonan (photosinthesis) - sinar matahari/matahari - sesama benda langit). Jadi, bernafasnya manusia, walaupun bukan dalam bentuk kata-kata, tetapi adalah bentuk pengakuan ketergantungan (lihat etymology dari kata “din” yang diterjemahkan menjadi “agama” dalam bahasa Indonesia) kepada Ar-Rabb:
    “Allah yang kumaksud, ridhaNya yang kuharapkan (Illahi anta makhsudi waridhaka mathlubi)”
yaitu doa yang diajarkan para Ahli Silsilah Tharikat Naqshabandiah. Usaha manusia agar kesadarannya senantiasa berada dalam ontic domain dari bernafas itu sendiri adalah Tauhid (“menjadikan sedang bersatu”). Kata-kata yang diucapkan manusia yang disebutkan pada ayat 5 pada awalnya berbentuk nafas. Isi dari kata-kata tersebut menunjukkan ketidaksadaran si pengucap apa itu nafas sebenarnya .
Karena itu, Q.7 (Al-A’raf/Faculty of Discernment): 205:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai."
Nafas Dalam Tharikat Naqsbandiah:
Ajaran (1 dari 8) daripada Saidi Syech Abdul Chalik al-Fajduwani/Gujduwani (dalam bahasa Turki):
Husy dar dam: awareness during breathing, sadar akan nafas.
Saidi Syech Naqshband: (said Bahauddin):
"The external basis of this tariqa is the breath. One must not exhale in forgetfulness or inhale in forgetfulness."
Saidi Syech Kadirun Yahya: Nafi-Isbad.
  • Diversity yang berpasang-pasangan (ayat 3) adalah prinsip complimentary to each other (“kami” bukan “aku”) dalam “sedang menyatu”: oxygen - paru2 - darah - sel syaraf/tubuh - carbon dioxyda - pepohonan (photosinthesis) - sinar matahari - matahari - sesama benda langit, yang kesemuanya berpangkal dari kuasa Ar-Rabb (“al-amra” pada ayat 3).
Bab VI. Konsistensi Ontic Domain dengan Epistheme: “Rijalun la tulhiihim tijaratun wala bay'un 'an thikri Allahi” pada Q.24/An-Nur (Cahaya): 37.
Q.24/An-Nur (Cahaya): 34-38.
[34] Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
[35] Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
[36] Bertasbih kepada Allah di mesjid-mesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,
[37] laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.
[38] (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
LAMPIRAN A: “Mati” dan Siratan Mustaqeem
Q.4/An-Nisa (Woman): 66 - 70:
[66] Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),
[67] dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,
[68] dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
[69] Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
[70] Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.
LAMPIRAN B: “Mati” dan Cara Belajar Nabi Musa A.S. => Nabi Muhammad S.A.W. = YM. Naufal (yang mengatakan Ruh yang mendatangi Nabi Muhammad SAW sama dengan Ruh yang mendatangi Nabi Musa a.s.).
(a) Nabi Musa A.S. Belajar dari dimensi keterpisahan ke dimensi unity (Bottom - Up Approach) => Hasilnya: Kegagalan. Artinya, pembelajaran cara ini tidak dapat diteruskan.
Q.18/Al-Kahf (The Cave): 60 - 82.
[60] Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
[61] Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
[62] Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".
[63] Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."
[64] Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
[65] Lalu mereka bertemu dengan seorang h amba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
[66] Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
[67] Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.
[68] Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
[69] Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun".
[70] Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
[71] Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melubangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
[72] Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku"
[73] Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
[74] Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".
[75] Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
[76] Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".
[77] Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
[78] Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
[79] Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
[80] Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
[81] Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
[82] Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".
(b) Nabi Musa A.S. Belajar dari dimensi Unity turun ke dimensi keterpisahan (Top - Down Approach) => Hasilnya: Pengakuan oleh Episteme.
Q.7 (Al-A’raf): 143 - 144:
[142] Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan."
[143] Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

1. Kata “agama” dipadankan dengan “id-dîn” dalam bahasa Arab, yang artinya: religion, faith, creed, sovereignty, submission, belief, accountability. Root d-â-n: to be indebted, to owe, to be subject, be under someone's power, owe allegiance; to repay. Kata “religion” berasal dari kata “re” dan “ligare (that which binds)”. Dengan demikian kata “religion” berarti “that which binds back”.
2. Secara etymology, kata “Islam” berarti “menyerahkan diri/submission of oneself/surrender,” lihat misalnya: Q.2: 136.
3. Prof. S. S. Kadirun Yahya, Teknologi Al-Qur’an, [Tahun??].
4. Wejangan Untuk Mahasiswa Institut Ilmu Pemerintahan, 15 Maret 1978.
5. Prof. Dr. Mujamil Qomar, M. Ag., Epistemologi Pendidikan Islam, Penerbit Erlangga, 1997, hal. 1
6. Kata “tauhid” berasal dari kata bahasa Arab “ahad (akar kata: ahd)” yang artinya “bersatu”. Awalan “ta” pada akar kata ini menjadikan akar kata tersebut menjadi “present continuous form”. Dengan demikian “tauhid” berarti “sedang dan senantiasa bersatu” (lihat grammar rule no. 11 di bawah).
The amazingly luxuriant tree of Arabic grammar is practically entirely based on the straightforward but elegant strategy of the root. The overwhelming majority of these roots consist of just three consonants, always in the same sequence (but guess what: irregular verbs are part of life, even in Arabic). The way vowels and an occasional prefix are arranged around them give the speaker a rich fund of information about how the word is to be understood. W e can abstract a few of them for illustration, and paraphrase what the Arabic speaker knows, using the numbers 1, 2 and 3 for the three consonants of any root and boldface for all the grammatical apparatus embedded in it
1. 1a2a3 'he did that'
2. 1u2i3 'that was done'
3. 1a22a3 'he caused that to be done'
4. 1u22i3 'he was made to do that'
5. 1aa2a3 'he did that involving someone else'
6. 1a23 'a thing'
7. 1i2aa3a 'something (often an abstraction)'
8. 1i2aa3ii 'having do with something'
10. ta12ii3 '-ing'
11. mu1a22i3 'someone who does something, -er'
12. ma12uu3 'something done'
7. David Bohm and B.Hiley, “On the Intuitive Understanding of Non-locality as Implied by Quantum Theory” (preprint, Birkbeck College, University of London, 1974).
8. Al-Ghazzali (trans. Gairdner, W.H.T.), Mishkât Al-Anwar ("The Niche for Lights"), first published as Monograph Vol. XIX by the Royal Asiatic Society, London 1924. http://muslim-canada.org/niche0.html, (pp.117-119).
9. Russell, Peter: From Science to God: The Mystery of Consciousness and the Meaning of Light (Lightning Source, Inc., U.S.A.), hal. 4.
10. Iqtikaf, 2 November 1987
11. Kata “lilmuttaqeena” berasal dari kata “taqwa”.
12. Amanah Tutup I’Tiqaf/Ceramah di Universitas Panca Budi, Medan.
13. n: the philosophical study of being and knowing [From pl. of Middle English methaphisik, from Medieval Latin metaphysica, from Medieval Greek (ta) metaphusika, from Greek (Ta) meta (ta) phusika, (the works) after the Physics, the title of Aristotle's treatise on first principles (so called because it followed his work on physics): meta, after; see meta- + phusika, physics; see physics] h ttp://dictionary.reference.com/search?q=metaphysics
14. Knowledge, “ilm” dalam terminologi Al-Qur’an tidak sebatas mental knowledge, tetapi mencakup experience. Hal yang sama dinyatakan Prof. Kadirun Yahya pada pesan Beliau yang dikutip pada Bab Pendahuluan, yaitu: “.. keyakinan yang ilmiah dan dapat dipraktekkan dengan nyata kebenarannya.”
Niels Bohr, “If the inner structure of the atom is as closed to descriptive accounts as you say, if we really lack of language for dealing with it, how can we ever hope to understand atoms?” Bohr hesitated for a moment and then said, “I think we may yet be able to do so. But in the process we may have to learn what the word ‘uinderstanding’ really means.” (Werner Heisenberg, Physics and Beyond, New York, Harper & Row, 1971. p.41).
15. Q.41/Al-Fussilat (Detailed): 44 Walaw jaAAalnahu qur-anan aAAjamiyyan laqaloo lawla fussilat ayatuhu aaAAjamiyyun waAAarabiyyun qul huwa lillatheena amanoo hudan washifaon waallatheena la yu/minoona fee athanihim waqrun wahuwa AAalayhim AAaman ola-ika yunadawna min makanin baAAeedin [And if We had appointed it a Lecture in a foreign tongue they would assuredly have said: If only its verses were expounded (so that we might understand)? What! A foreign tongue and an Arab? Say unto them (O Muhammad): For those who believe it is a guidance and a healing; and as for those who disbelieve, there is a deafness in their ears, and it is blindness for them. Such are called to from afar].
16. The Arabic word Sunnah is a derivative of the root sanna, which literally means to sharpen, grind, mold, form, establish (law or custom). As a noun, sann means prescription, introduction, enactment, issuance (of laws).
17. Surah Al-Baqarah/2: verse 2: Thalika alkitabu la rayba feehi hudan lilmuttaqeena [This is the Scripture whereof there is no doubt, a guidance unto muttaqeena.
While the definition of “muttaqeena” (Surah Al-Baqarah/2, verse 3-5):
Allatheena yu/minoona bialghaybi wayuqeemoona alssalata wamimma razaqnahum yunfiqoona [Who believe in the unseen, and establish worship, and spend of that We have bestowed upon them;]
Waallatheena yu/minoona bima onzila ilayka wama onzila min qablika wabial-akhirati hum yooqinoona [And who believe in that which is revealed unto thee (Muhammad) and that which was revealed before thee, and are certain of the Hereafter]
Ola-ika AAala hudan min rabbihim waola-ika humu almuflihoona [These depend on guidance from their Lord. These are the successful.]
18. Q.51(Al-Waqi’ah/The Inevitable): 77-79.
Innahu laqur-anun kareemun [That (this) is indeed a noble Quran]
Fee kitabin maknoonin [In a Book kept hidden]
La yamassuhu illa almutahharoona [Which none toucheth save the purified]
19. Webster's NewWorld Dictionary; January 1, 1988: on|tol|o|gy (n tl' je) n. 1. the branch of metaphysics dealing with the nature of being, reality, or ultimate substance: cf. phenomenology 2. -gies a particular theory about being or reality --on|to|log|i|cal (n|to lj'i kl) adj. --on|to|logi|cal|ly adv. --on|tolo|gist n. Copyright 1994, 1991, 1988
20. id-dîn: religion, faith, creed, sovereignty, submission, belief, accountability
Root d-â-n: to be indebted, to owe, to be subject, be under someone's power, owe allegiance; to repay.
21. Al-Qur’an: Surah Al-Baqarah/The Heifer (2): 256.
22. on•tic. Pronunciation: (on'tik), [key] —adj.Philos. possessing the character of real rather than phenomenal existence; noumenal.
Random House Unabridged Dictionary, Copyright © 1997, by Random House, Inc., on Infoplease.
23. Prof. Kadirun Yahya: Hampirilah Tuhan dengan sifat lemah, hina dina dan papa. [Gema Islam].
Arti akar kata “din,” yang ditafsirkan sebagai “agama” dalam bahasa Indonesia: “mâliki yawm id-dîn”
mâliki : lord, master, owner, controller
Root m-l-k (1081) to own, possess, acquire, control, rule, have dominion over, lord over, to be master of.
yawm : (1300) day, age, era, time, a period of time, moment
id-dîn (353) religion, faith, creed, sovereignty, submission, belief, accountability
Root d-â-n (352) to be indebted, to owe, to be subject, be under someone's power, owe allegiance; to repay.
24. Prof. Kadirun Yahya, Wejangan Shalat Subuh, Jakarta, 4 April 1978: “....beriman tahu bagaimana yang beriman? apa yang datang sama dia (tawakkal), bukan tawakkal saja bagi dia, Ridha (tidak mengumpat), hujan datang Alhamdulillah, panas datang Alhamdulillah. Ini hujan datang :”Hujan saja tiap hari” batal imannya. Panas datang “Yah bagaimana ini panas kering.” Iman saja belum tamat”.
Dengan menggunakan definisi “iman” yang diberikan Prof. Kadirun Yahya sehubungan dengan Tauhid pada Q.13: 1-5 di atas, dapat kita mengerti definisi “Ikhsan” pada Sunnah Rasul Allah: He (the inquirer) again said: Inform me about al-Ihsan. He (the Holy Prophet sallallahu alayhi wasallam) said: That you worship Allah as if you are seeing Him, for though you don't see Him, He, verily, sees you.
25. See footnote no. 5.