Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Hadits (HR. Ibnu Majah)
Artinya: “Lazimkan olehmu memakai dua macam penawar/obat (yaitu) Madu dan Al Quran.”
Itu semua (Ayat dan Hadits tersebut) mengandung power, pembasmi penyakit yang sehebat-hebatnya, termasuk AIDS, juga kanker, leukemia, narkotika, dan lain-lainnya. Al-Quran telah nyata dapat memberikan jawaban kepada seluruh kaum Muslimin tentang cara menghancurkan semua macam penyakit di akhir zaman, yang dalam dunia medis belum berhasil.
Penyakit di akhir zaman ini termasuk penyakit-penyakit akhlak, moral dan kejiwaan yang bisa kita lihat pada manusia-manusia yang tersesat jalan, kemudian dimasukkan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan selama beberapa waktu, untuk dibimbing kembali ke jalan yang benar dan diberi kesadaran. Dengan jalan dikurung dan dibimbing itu diharapkan mereka akan mendapat pelajaran dan keinsyafan, namun ternyata kesadaran itu maksimal hanya masuk ke dalam otak mereka, belum tembus tertanam dalam hati sanubari mereka. Akibatnya, para napi sesudah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, kembali lagi kepada kejahatan-kejahatan semula karena semua pelajaran yang hanya masuk ke dalam otak itu belum cukup membendung desakan-desakan nafsu syathaniah yang masih mengakar kuat dalam hati sanubari mereka.
Untuk itu perlu metode menanamkan Kalimah Allah ke dalam hati sanubari insan, sehingga Kalimah Allah yang tertanam dalam hati sanubari itu langsung mengendalikan segala gerak-geriknya, tindak-tanduknya, fikirannya, keinginan-keinginannya, sesuai dengan Ridha Ilahi. Ia akan menjadi orang yang melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dia otomatis mampu membawa kebesaran-kebesaran Kalimah Allah pada dirinya dan kelilingnya. “He is the rahmat carrier. Penerus dari tugas Rasulullah SAW untuk dunia-nya.”
QS. Al Anbiya, ayat 107:
Artinya: “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan menjadi rahmat untuk semesta alam.” (Tidak Aku turunkan engkau ya Rasul ke dunia, melainkan untuk membawa rahmat-Ku ke seluruh alam, langsung dari-Ku).
Inilah dasar Thariqatullah atau Thariqatus-sufiyah.
Allah SWT Yang Maha Segala dalam ukuran tidak terhingga sudah jelas mempunyai frekuensi tak terhingga. Tidaklah mungkin frekuensi yang tak terhingga itu dimiliki oleh manusia yang serba baharu dan serba kekurangan. Namun kalau manusia tidak mempunyai frekuensi tak terhingga, sudah jelas tidak ada hubungan antara manusia dengan Allah SWT Yang Maha Akbar, Maha Tinggi, Maha Agung, karena frekuensinya tidak sama. Sudah jelas manusia yang serba berkekurangan tidak mungkin memiliki frekuensi tak terhingga kecuali jika frekuensi tak terhingga itu diberikan oleh Allah SWT sendiri pada manusia itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat An Nur, ayat 35:
“Nuurun ‘alaa nuurin yakdhillahu linuurihi mayy-yasyau.”
Inilah dia yang dikatakan Wasilah, channel dan frekuensi tak terhingga yang menyampaikan, menghubungkan manusia langsung dengan Tuhan-nya.
Tentu saja Wasilah ini, yang mempunyai frekuensi tak terhingga, diberikan oleh Allah SWT kepada insan-insan pilihannya, sudah jelas Rasulullah SWT sebagai insan pilihan telah menerima Wasilah Akbar, telah menerima Nuurun ‘alaa nuurin yakhdillahu linuurihi may-yasyaa-u, yang menjadi kualifikasi seorang Rasul. Wasilah ini jelas bukan manusia biasa atau perantara, bukan pula Wali dan bukan pula Rasul. Siapa saja yang selama ini menduga bahwa Wasilah itu adalah manusia atau perantara, benar-benar keliru besar. Wasilah adalah nuurun ‘alaa nuurin dan Rasul adalah Si Pembawa Wasilah (The Wasilah Carrier).
Tanpa Wasilah (Nuurin ‘alaa nuurin) para Rasul tidak mungkin akan dapat berhubungan dengan Allah SWT. Wasilah ini, Wasilah yang sama yang telah dimiliki Rasulullah SAW, harus dan wajib pula kita miliki agar penyampaiannya sama, hubungannya sama, seperti hubungan Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Karena Wasilah itu, Nuurun ‘alaa nuurin ini, ditanam oleh Allah SWT dalam Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk memiliki Wasilah yang sama, selain dengan menggabungkan Arwah kita (di mana Wasilah itu akan didudukan Allah) dengan Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW, melalui Arwahul Muqaddasah dari Beliau-beliau yang telah lebih dahulu bergabung dengan arwahnya dengan Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW, yaitu Arwahul Muqaddasah para ahli Silsilah, mulai dari Arwahul Muqaddasah Khulafaur-Rasyiddin sampai kepada Guru-guru kita, Aulia-aulia Allah, Ahli Silsilah sebagai Kekasih-kekasih Allah yang meneruskannya.
Kami ulangi sekali lagi bahwa Wasilah Akbar, bukan ditanamkan dalam jasmani, atau dalam otak Rasul, tetapi dalam Arwahul Muqaddasahnya yang telah sempurna disucikan itu dengan Kalimah Allah Yang Maha Suci dan Maha Akbar. Oleh sebab itu, Wasilah yang mengandung frekuensi, mengandung channel Allah SWT, wajib kita miliki, agar kontak dengan Allah dapat terwujud sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Maidah, ayat 35, yaitu:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, temukan wasilah (faktor yang tidak terhingga kapasitasnya yang langsung menyampaikan kamu ke hadirat Allah SWT) dan bersungguh-sungguhlah berjuang di atasnya niscaya kamu mendapat kemenangan.”
Maka jika Wasilah ini, channel ini telah ditemui, barulah disitu kita mulai berdzikir, dan ibadat kita dengan izin Allah akan langsung tersalur ke Hadirat Allah SWT. Maka dzikir yang dilaksanakan dengan metode pelaksanaan teknis barulah diharapkan akan dibalas oleh Allah SWT dengan menanamkan/memberikan Kalimatullahi Hiyal Ulya ke dalam diri kita sendiri sesuai dengan Surat Al Baqarah, ayat 152:
Artinya: “Dzikirlah kamu akan Daku, niscaya Aku dzikir akan kamu dan janganlah menyangkal akan nikmat-Ku.”
Inilah yang sangat ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh insan ahli-ahli tasawuf, yaitu dzikir (nama Allah) dari Allah sendiri, Kalimah Allah murni dan Maha Akbar sebagai balasan atas dzikir yang kita laksanakan pada-Nya yang dilaksanakan menurut teknis pelaksanaan (metode) yang tersebut di atas. Dzikir dari Allah berarti Allah SWT menanamkan Kalimah-Nya ke dalam hati sanubari kita, Kalimah Allah murni yang dikawal oleh seluruh angkatan malaikat, bukan ke dalam otak, melainkan ke dalam Arwahul Muqaddasah, hati sanubari kita.
Hadists Qudsi Ahmad dari Wahab bin Munabbih:
Artinya: “Tidak dapat memuat akan Zat-ku bumi dan langit-Ku, yang dapat memuatnya adalah HATI HAMBAKU YANG MUKMIN/SUCI, LUNAK DAN TENANG.”
Barulah tercipta dalam hati sanubari insan itu Kalimatullah Hiyal Ulya yang sejati, asli dan murni dari Allah SWT sebagai dasar hidup yang gilang-gemilang pada Orde Ke-Tuhan-an dalam diri insan. Inilah dia baru terciptanya Insan Kamil yaitu Insan yang duduk dalam hati sanubarinya Kalimatullahi Hiyal Ulya yang Maha Kamil yang disalurkan dari Allah SWT sendiri melalui channel dan frekuensi tunggalnya sementara otaknya berisi dengan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat yang ditimba dari Guru-gurunya dan dari alma maternya, dari Kitab-kitabnya dan dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Inilah dia Metodologi Akbar yang sesuai dengan Surat Jin ayat 16:
Artinya: “Dan bahwasanya jika mereka berdiri tetap di atas Tarikat yang benar, (jalan, metodologi yang benar), Kami akan limpahkan pada mereka, Kurnia sebanyak hujan lebat dari langit.”
Dikuatkan pula dengan Surat Al Maidah, ayat 35:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taqwalah kamu akan Allah, temukan Wasilah (yang akan menyampaikan kamu langsung ke Hadirat Allah SWT), sungguh-sungguhlah beramal di jalan Allah itu (intensif beramal), niscaya kamu akan mendapatkan kemenangan.”
Kita lihat di sini bahwa orang yang mendapat kemenangan absolut ialah orang yang beriman, orang yang telah menemukan Wasilah dan orang yang telah sungguh-sungguh beramal di jalan Allah itu (intensif beramal). Inilah pula orangnya yang akan mampu meneruskan dan menyalurkan rahmat Allah pada sekelilingnya di mana ia barada, pada kelilingnya dan pada negaranya.
Wamaa arsalnaaka il-laa rahmatal lil‘aalaamin. (QS. Al-Anbiyaa, ayat 107).
Dan ia akan mampu menjadi insan pelaku pembangunan, sebagai sumber daya manusia yang berkualitas unggul dan dinamis yang dapat membangun dengan sempurna dengan hati yang tulus ikhlas, khalis mukhlisin. Dan ia pasti akan selalu berhasil dengan gilang-gemilang karena ia adalah Si Penerus yang membawa kemenangan-kemenangan absolut yang tersimpan dan tersalur daripada Kalimatullahi Hiyal Ulya Yang Maha Akbar, Maha Sempurna dan Maha Menang.
Jelaslah sudah bahwa Teknologi Al-Quran akan mampu mengalahkan semua teknologi Atom dan Nuklir dari lawan-lawan, anti Agama dan perusak Agama dan peradaban manusia di muka bumi ini, karena enerji Al-Quran adalah di atas segala-gala teknologi di dunia, karena dimensinya lebih tinggi dari segala dimensi, a higher dimension commands a lower dimensions.
Mudah-mudahan kita menuju kebangkitan Islam di akhir zaman secara sukses, dipelopori oleh Teknologi Al-Quran. Tetapi harus kita waspadai. Kebangkitan Islam di akhir zaman di Indonesia ini bukan secara horizontal tetapi secara VERTIKAL ke atas. Selama ini kita “tertidur”, belum terbangun, sekarang ini mulai bangkit/bangun menuju ke atas kepada Allah SWT. Bukan horizontal. Bagi kita cukup PANCASILA, Pancasila adalah ideal, adalah sempurna bagi kita, Pancasila adalah Final. Dirikanlah dalam negara Pancasila, Tauhid Islam dalam diri kita masing-masing secara benar-benar sesuai dengan hukum Teknologi-nya (Firman Aafaaqi).
Kami harapkan warisan Rasulullah SAW ini menjadi perhatian khusus bagi umat Islam, supaya menambah, meningkatkan, membukakan hati dan membangkitkan semangat kita untuk lebih tekun mendalami Islam secara keseluruhannya, zahir dan batin, syari’i dan hakiki, dengan mengamalkan kembali seikhlas-ikhlasnya Warisan Rasulullah SAW, agar umat Islam se-Dunia kembali kejayaannya, seperti yang telah dipraktekkan Nabi Besar Muhammad SAW dan para Sahabat-sahabat Khulafaurrasyidin, karena berkat amal-amal beliau inilah, maka Allah SWT menganugerahkan tenaga-tenaga gaib (invisible strength), yang dapat diumpamakan dalam ilmu alam sebagai tenaga-tenaga radar yang tidak kelihatan, yang menjamin kemenangan umat Islam lahir dan batin, dunia dan akhirat, demi kebesaran Kalimah Allah SWT dan kemuliaan Rasulullah SAW.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahilhamd.
|