(III/4)
Enerji adalah hasil olahan teknologi, dan setiap teknologi menghendaki suatu metodologi, ini wajib. Tidak ada satu proses-pun dalam teknologi yang tidak menggunakan metodologi. Metodologi dalam Al-Quran namanya Thariqat.
Selama ini Thariqatullah selalu diabaikan, dikhilafiahkan, bahkan disyirikkan oleh sebagian kaum Muslimin yang kurang paham tentang tasawuf dan Teknologi, padahal betapa tingginya Al-Quran dan Al-Hadits. tasawuf dan metodologinya ini dapat membawa kita kepada Dimensi Ihsan yakni salah satu dari tiga pilar pokok agama Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan, yang ketiganya harus diterima secara keseluruahn (QS. Al-Baqarah, 208).
Yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.”
Di bawah ini akan kita baca ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang mengkiaskan kehebatan seorang Mukmin yang selalu disertai tenaga Oer Atom Yang Maha Dahsyat, agar kaum muslim dapat berfikir dan merenungkannya serta dapat memanfaatkannya untuk kemenangan hidup dunia akhirat dalam segala sektor kehidupan. Hadist Qudsi riwayat Ahmad:
Artinya: “Tak dapat memuat akan zat-Ku, bumi dan langit-Ku, yang dapat memuat akan zat-Ku, ialah hati hamba-Ku yang Mukmin, lunak dan tenang.”
Kesimpulannya: di dalam kalbu seorang Muslim berada tenaga OerAtom Yang Maha Dahsyat, yang ia harus pandai/mampu mencari metode/caranya untuk mengeluarkannya dan memanfaatkannya. Surat Al Qaf, ayat 16:
Artinya: “Dan Kami lebih hampir kepadanya daripada kedua urat lehernya.”
Kesimpulannya: Tenaga dahsyat itu sangat hampir pada sang Mukmin, sayang ia tak mengerti cara pelaksanaan teknis untuk memanfaatkannya. Ia percaya tetapi tak dapat menghasilkannya. Sayang seribu kali sayang. Surat Al Hadid 57, ayat 4:
Artinya: “Dia beserta kamu dimanapun kamu berada.”
Kesimpulannya: Sang Mukmin rupanya selalu beserta dengan Yang Maha Kaya, Yang Maha Menang dan Yang Maha Segalanya, tetapi kenapa tetap menderita, barangkali mukminnya belum benar.
Coba kita renungkan sekarang kenyataan ini!.
Tanpa metodologi tidak satu ayat-pun yang akan terwujud dalam suatu proses daripada ilmu teknologi. Teknologi tidak mesti diartikan hal-hal yang bersifat mekanistis atau bersangkutan dengan mesin-mesin, komputer dan peralatan laboratorium yang canggih. Sebenarnya teknologi merupakan rangkaian metode, yang mencakup pengertian yang lebih jelas. Seperti memasak, meskipunsederhana, kenyataannya tetap menghendaki suatu metodologi, karena meskipun bahan-bahan dan sarananya tersedia lengkap, tanpa metodologi yang tepat tak akan jadi masakan. Contoh lainnya adalah air, bila tak tahu metodologi dan teknologinya, maka air tak akan dapat meledak menyemburkan api yang panasnya dapat melebur besi, menghasilkan listrik jutaan volt, atau gas racun berbahaya.
Itu semua baru contoh-contoh di alam fisika, apalagi untuk enerji metafisika Ketuhanan Yang Maha Akbar dan Maha Rahasia serta dimensiNya tidak terhingga yang mana untuk mendapatkannya,wajib memakai metode-metode yang tepat dalam teknologinya dan sudah tentu dengan bimbingan ahli Teknologinya, yaitu Rasulullah SAW.
Sesungguhnya Allah telah berfirman dalam Al-Quran yang menyiratkan adanya tenaga teknologi, antara lain Surat Al Hasyir ayat 21.
Artinya: “Andaikata Al Quran ini Kami letakkah di atas bukit, kamu akan lihat bukit itu akan tunduk dan telah hancur berantakan karena takutnya kepada Allah. Dan perumpamaan ini Kami jadikan untuk manusia agarmereka berfikir.”
Atau dalam Surat Ar-Ra’ad, ayat 31 yang mengungkapkan kedahsyatan enerji metafisika Ketuhanan:
Artinya: “Dan sesungguhnya andaikan ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dapat membuat gunung-gunung berjalan/berguncang dahsyat atau bumi dipotong-potong/dibelah-belah atau orang mati diajak bicara/dapat bicara (hidup kembali) niscaya Kitab Suci itu Al-Quran. Dan merekapun tidak juga beriman dan juga masih tidak berfikir untuk merisetnya (walaupun Tuhan mengatakankedahsyatan Al-Quran itu secara bertubi-tubi).”
Atau Surat Yusuf, ayat 105:
“Banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Tuhan di langit dan di bumi, mereka lalu-lalang di atasnya sedangkan mereka berpaling daripadanya."
Tidak mau merisetnya. Padahal itu adalah firman Ilahi, itu Sunnatullah. Itu adalah firman Aafaaqi. Itu bukan Bid’ah. Bukankah Islam itu ilmiyun (ilmiah).
Dalam Hadist disebutkan:
Artinya: “Islam itu adalah ilmiah dan amaliah, Islam itu tinggi tak ada yang melebihinya.” (HR.Imam Bukhari)
Bukankah sampai sekarang tidak ada satu ayat atau hadits-pun, di akhir zaman ini, dalam beberapa abad ini, kaum Muslimin tidak lagi dapat merealisasi dengan secara fakta kebenaran, satu hadits-pun atau satu ayat-pun secara nyata dan faktuil?! Ayat-ayat dan hadits Nabi seolah-olah tidak berlaku. Karena tidak dilaksanakan dengan teknologinya. Sehingga Power Al-Quran tidak kunjung muncul. Masihkah mata kita belum terbuka lagi untuk meriset secara teknologis, dimana kemacetan itu semuanya!.
Allah SWT telah berfirman dalam Surat Jin ayat 16:
Artinya: “Dan bahwasanya jika mereka berdiri tetap di atas Thariqat yang benar (jalan, metodologi yang benar), Kami akan limpahkan pada mereka, (Karunia sebanyak) hujan lebat (dari langit).”
Dalam Surat Ar-Ra’ad ayat 11:
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Tidak Ku-rubah nasib sesuatu bangsa, kalau bangsa itu tidak merubah nasibnya sendiri).Selanjutnya Hadits Nabi SAW:
“Dengan nama Allah yang tidak memberi mudharat apa-apa yang di bumi dan di langit bagi (orang) yang beserta dengan NAMA-NYA.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Bukannya kebanyakan muslimin itu tidak shalat, tidak berdzikir, tidak berpuasa, tidak naik haji, semua dilaksanakannya. Namun tidak juga mampu mengeluarkan realisasi faktuil dari satu ayat atau satu hadits sekalipun, karena tidak mengetahui akan metodologi-teknologinya yang merupakan firman Aafaaqi. Di sini letaknya kelemahan kaum Muslimin di seluruh dunia, karena telah berabadpula, kaum Orientalis Barat, menyelewengkan arti Ayat-ayat Akbar tentang Thariqatullah (Q.S. Al Jin 16-18), Waliyyam Mursida (QS. Al Kahfi, 17), Wasilah (Al Maidah, 15), Rabithah (Ali Imran, 200), dan lain-lain.
Kekhilafiahan terhadap metodologi (Thariqatullah) pendekatan diri kepada Allah melalui pembersihan rohani dengan cara membaca kalimah Allah ini, terjadi sebagai akibat pengaruh yang sangat negatif, serta tipu daya kaum Orientalis jahat yang licik, musuh bebuyutan kaum Muslimin yang mengisukan bahwa Thariqatullah yang ada pada tasawuf Islam bersumber dari prinsip-prinsip nonIslami dan syirik. Mereka dengan sengaja melemparkan isu ini menyesatkan dan memecah belah umat Islam supaya lemah, karena mereka tahu benar-benar bahwa tasawuf dan Thariqatullah itulah yang merupakan benteng ketahanan mental spiritual umat Islam Maha Dahsyat yang bersumber dari enerji metafisika Ketuhanan yang murni dan Maha Akbar yang disalurkan melalui metodologi dahsyat dalam Teknologi Metafisika Al Quran.
Mari kita dengan seksama dan teliti sekali, mulai mengambil ujicoba semuanya ini, karena ini adalah ilmu teknologi yang dapat diujicoba, para teknolog tidak akan bicara, kalau ilmunya belumdiuraikan, dianalisa secara ilmiah yang murni, kemudian harus diujicoba secara empiris nyata beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali, semua teknolog begitu sifatnya.
Kalau berhasil, baru ia mau bicara. Kalau tidak berhasil, ia masih bungkam terus. Alhamdullillah bukan untuk “apa-apa”, tetapi semata-mata untuk contoh-contoh. Contoh-contoh yang telah dilaksanakan oleh para ahli tasawuf dengan metode Thariqatullah, sudah beribu kasus banyaknya dalam puluhan tahun ini. Apa salahnya, secara ilmiah, tuan-tuan dan ibu-ibu juga mencobanya, tetapi kami peringatkan. Ini adalah Teknologi sangat tinggi danhalus, dan menghendaki syarat-syarat yang sangat halus dan suci pula dan pemimpinya harus seorang Waliyam Musyida yang benar-benar kompeten.
Coba kita ingat saja, dalam kita mempersiapkan diri untuk meneliti jalan/metode ini yang sangat tinggi ini, yang sangat halus dan akbar, serta Khalis Mukhlisin, kita harus membuat persiapan-persiapan yang benar dan tepat dan harus mempunyai pemimpin.
Kita baca surat Al Kahfi, ayat 17:
Artinya: “Barangsiapa yang diberi PETUNJUK oleh ALLAH, maka dialah orang yang mendapat PETUNJUK. an barang siapa yang disesatkan oleh ALLAH, maka baginya tidak akan mendapatkan seorang WALI MURSYID.”
Jadi harus ada Pemimpinnya, apalagi ini teknologi yang sangat tinggi yang sangat akbar. Kami telah menuliskan beberapa ayat Al Quranul Karim, sehingga pedoman dan petunjuk dalam mengamalkan teknologi Al Quran Yang Maha Dahsyat ini, yang kita lihat bukan main hasilnya, umpamanya saja, semua penyakit apa saja tidak menjadi persoalan.
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang enjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Hadits (HR. Ibnu Majah)
Artinya: “Lazimkan olehmu memakai dua macam penawar/obat (yaitu) Madu dan Al Quran.”
|